Tidak sedikit
orang-orang di sekitar saya bertanya-tanya kepada saya apa alasan yang paling
masuk akal bagi mereka untuk mempelajari bahasa yang katanya merupakan bahasa
tersulit di dunia ini. Saya selaku orang yang sangat mencintai bahasa ini akan
membagikan pandangan saya tentang alasan orang belajar bahasa mandarin.
Sebelumnya,
saya akan membagikan sedikit latar belakang bahasa mandarin saya.
Saya sempat
mencicipi rumitnya bahasa ini sewaktu kelas satu SD. Waktu itu tema saya
belajar bahasa mandarin adalah “Iseg-Iseng Berhadiah”. Belajar bahasa mandarin
kala itu sangat membosankan, gurunya kurang interaktif dan yang ada di pikiran
saya hanya satu, “Kapan pelajaran ini usai?” Akhirnya karena terbentur waktu
sana-sini dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan belajar, saya
meninggalkannya, tanpa ada rasa kehilangan sedikitpun.
Waktu
berlalu. Kemudian di kelas tiga SD, demi apa sekolah saya mengharuskan seluruh
siswa belajar bahasa mandarin. Masih, saya mempelajarinya dengan setengah hati.
Saya belajar hanya di kala ulangan saja. Menghapal huruf-huruf itu sangat
menyita waktu saya.
Dua kali
bahasa mandarin datang pada saya, dua kali saya tolak. Bahasa ini pun terpental
dari hidup saya.
Kenyataan
pertama yang indah adalah saya tidak harus terlibat dengan huruf-huruf mandarin
yang rempong dan bentuknya aneh. Saya tidak harus mengingat langkah-langkah
menulis aksara mandarin. Ada yang dari kiri ke kanan, ada yang dari atas ke
bawah, ada yang terbalik, tekan di sini, atau tarik pelan di sini, atau garis
ini arahnya seperti ini, macam-macam. Kalau aturan A berlaku di sini, belum
tentu aturan A berlaku di huruf yang berbeda. Setiap huruf punya aturan
tersendiri bagaimana mereka diperlakukan. Dan semuanya itu, sangat menguras
pikiran. Ibarat Anda punya banyak pacar, Anda harus mengerti bagaimana cara
memperlakukan pacar pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.
Kenyataan
kedua yang jauh lebih indah adalah saya mendapati belajar atau tidak belajar
bahasa mandarin, memahami atau tidak memahami bahasa mandarin, mengerti aturan
penulisannya atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh terhadap cerahnya masa
depan saya. Toh walaupun hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun
saya tidak mencampuri hidup saya dengan bahasa ini, hidup saya berjala
lancar-lancar saja, bahkan sangat bahagia.
Kesimpulan
pertama saya adalah, belajar bahasa mandarin sama sekali tidak berpengaruh pada
baik buruk hidup saya.
Cerita ini belum selesai, masih bersambung ke Apa Tujuan Sebenarnya Saya Belajar Bahasa Mandarin(Bagian 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar